Saturday 22nd of August 2026

Motif Dendam Bullying, Kakak Beradik Jadi Pelaku Teror Pembakaran Sekolah di Gunungkidul

Motif Dendam Bullying, Kakak Beradik Jadi Pelaku Teror Pembakaran Sekolah di Gunungkidul

--

FISHERYSKILL ID  Teka-teki mengenai aksi teror mencekam yang melanda salah satu institusi pendidikan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta akhirnya berhasil diungkap oleh pihak berwajib. Aparat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gunungkidul resmi mengamankan dua pelaku anak di bawah umur yang menjadi dalang utama di balik peristiwa sabotase dan percobaan pembakaran gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) YAPPI Natah, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.

Kasus ini sempat memicu kegemparan luar biasa bagi warga sekitar karena dilakukan secara terstruktur menggunakan bahan bakar minyak. Namun, kurang dari 24 jam setelah laporan resmi masuk, polisi berhasil mendeteksi identitas kedua pelaku yang ternyata merupakan pasangan kakak beradik berusia 15 dan 14 tahun [???? kompas.com, Beritabuana]. Berdasarkan hasil pemeriksaan intensif, aksi nekat tersebut didasari oleh motif personal berupa dendam masa lalu akibat perundungan.

Baca juga: Peran Mulyono, Keponakan Rektor UNSOED yang Jadi Tersangka Kasus Korupsi Maba

Baca juga: Viral Bos Resto Korea di Surabaya Diduga Lecehkan Karyawan, Diancam Dipecat hingga Alami Trauma Berat

Kronologi Penemuan Bekas Pembakaran dan Ceceran Solar

Berdasarkan rilis resmi kronologi kejadian dari pihak Polsek Nglipar, peristiwa sabotase ini pertama kali diketahui pada Rabu, 19 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00 WIB pagi hari . Saat itu, salah seorang guru yang datang lebih awal untuk mempersiapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dikejutkan dengan kondisi pintu salah satu ruangan yang sudah dalam keadaan hangus terbakar sebagian.

Saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke area dalam, pihak sekolah menemukan adanya ceceran cairan berbau menyengat yang dipastikan sebagai bahan bakar jenis solar di sepanjang lantai teras hingga ruang kelas. Tak hanya itu, pelaku juga menata sejumlah lembaran kertas dan tumpukan jerami yang telah dilumuri solar di beberapa sudut ruangan untuk memicu kobaran api yang lebih besar . Pihak sekolah segera melaporkan temuan tersebut ke Polsek Nglipar karena menduga kuat adanya unsur kesengajaan.

Aksi pembakaran yang dilakukan pada Selasa malam tersebut menyebabkan kerusakan materiil pada fasilitas madrasah. Di antaranya adalah hangusnya sebagian kusen kayu, pintu ruang dapur, kerusakan pada satu buah kasur lantai, serta pecahnya plafon asbes di bagian atap kamar mandi akibat hawa panas api. Beruntung, api tidak menjalar ke seluruh kompleks bangunan karena keterbatasan oksigen di dalam ruang yang tertutup.

Motif Sakit Hati Akibat Perundungan dan Pemukulan Guru

Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, AKP Tri Hartanto, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai relasi pelaku dengan tempat kejadian perkara. Diketahui bahwa sang adik saat ini masih tercatat aktif sebagai salah satu murid di MI YAPPI Natah, sedangkan sang kakak merupakan alumni yang sudah lulus dari madrasah tersebut.

Baca juga: Nikita Mirzani Tagih Rp200 Juta kepada Giorgio Antonio, Ungkit Masa Lalu Kasus Narkoba Si Pacar Sarwendah

Baca juga: Viral Bos Resto Korea di Surabaya Diduga Lecehkan Karyawan, Diancam Dipecat hingga Alami Trauma Berat

Kepada tim penyidik, kedua anak pelaku mengaku melakukan pembakaran tersebut secara spontan setelah mengumpulkan sisa solar dari rumah mereka sendiri. Landasan utama tindakan berbahaya ini dipicu oleh rasa sakit hati yang mendalam atas perlakuan yang mereka terima di masa lalu. "Berdasarkan pengakuan sementara dari pelaku anak, mereka menyimpan dendam karena mengklaim pernah menjadi korban perundungan / bullying oleh teman-temannya serta mengaku sempat menerima pemukulan fisik dari salah seorang oknum guru saat bersekolah di sana," jelas AKP Tri Hartanto di Mapolres Gunungkidul. Pihak kepolisian menegaskan masih akan melakukan pendalaman lebih lanjut untuk membuktikan kebenaran dari klaim sepihak tersebut.

Imbas dari adanya olah TKP dan pemasangan garis polisi (*police line*) di area sekolah, aktivitas pendidikan di MI YAPPI Natah sempat mengalami kelumpuhan total . Sebanyak 109 siswa terpaksa diungsikan sementara waktu demi menjaga keselamatan dan stabilitas psikologis anak-anak. Pihak madrasah bersama Kementerian Agama setempat sepakat memindahkan KBM darurat ke tiga lokasi alternatif, yakni Masjid Arohma, Musala Al Azmi, dan Balai Padukuhan Blembeman 1 .

Mengingat kedua terduga pelaku masih berada di bawah umur (kategori anak berhadapan dengan hukum), Polres Gunungkidul memastikan tidak melakukan penahanan fisik di sel tahanan reguler. Proses hukum formal akan diselesaikan melalui mekanisme sistem peradilan pidana anak yang berlaku di Indonesia . Penyidik juga melibatkan Balai Pemasyarakatan (Bapas) serta dinas sosial terkait guna memberikan pendampingan psikologis penuh selama proses pemeriksaan perkara berjalan.

Source:

Update Terbaru

RELATED POST