SPPG Soditan Minta Maaf dan Pastikan Biaya Pengobatan Ditanggung Usai Ratusan Warga SMAN 1 Lasem Diare Massal
--
FISHERYSKILL ID – Pada artikel berikut ini adalah informasi mengenai update kasus keracunan MBG di SMAN 1 Lasem Rembang yang tidak boleh kamu lewatkan. Simak ulasan lengkapnya di bawah ini agar tidak ketinggalan informasi terbarunya!
Sebanyak 750 warga SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengalami diare secara bersamaan pada Kamis (3/9/2026). Mereka terdiri dari 725 siswa dan 25 guru yang mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian tersebut membuat aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan lebih awal.
Gangguan kesehatan mulai dirasakan sekitar pukul 09.00 WIB. Selain diare, sejumlah siswa dan guru juga mengeluhkan rasa mual. Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan untuk mengetahui jumlah warga sekolah yang terdampak kondisi tersebut.
Baca juga: LAGI! 777 Siswa dan Guru SMAN 1 Lasem Rembang Diduga Keracunan MBG, Alami Gangguan Pencernaan Parah
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan jumlah siswa yang mengalami diare tersebar di puluhan kelas.
“Akhirnya saya menyuruh agar tiap kelas didata yang mengalami diare itu. Setelah didata ada 20-31 orang dalam satu kelas. Sampai 33 kelas itu total 725 anak yang diare dan guru ada 25 orang. Kalau total jumlah murid itu ada 1.174, guru 95 orang,” kata Juhartutik.
Setelah mengetahui banyak siswa dan guru mengalami keluhan serupa, sekolah segera berkoordinasi dengan Puskesmas Lasem untuk mendapatkan penanganan darurat. Kondisi tersebut juga membuat kegiatan sekolah tidak dapat berjalan normal sehingga para siswa akhirnya dipulangkan.
Dugaan sementara mengarah pada makanan MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya. Menu yang dibagikan pada Rabu (2/9) terdiri atas ayam bakar, nasi putih, mendoan, dan semangka. Sebelumnya, terdapat pemeriksaan terhadap makanan sebelum dikonsumsi dan ditemukan salah satu bagian ayam dalam kondisi berlendir, meski ada pula sampel lain yang dinilai masih baik.
Pihak sekolah juga menyoroti jeda waktu antara proses memasak dan waktu makanan disantap. Menurut Juhartutik, makanan tersebut dimasak sekitar pukul 03.00 WIB, sedangkan siswa baru mengonsumsinya sekitar tengah hari. Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Kepala Puskesmas Lasem, dr Joko Paryanto, menyampaikan bahwa sejumlah siswa mendapatkan perawatan medis. Tiga siswa dilaporkan harus menjalani rawat inap akibat kondisi yang dialami.
Namun, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah, siswa, dan orang tua. Ia menyatakan penanganan korban menjadi prioritas dan biaya medis tidak akan dibebankan kepada mereka.
“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban,” kata Achmad.
Achmad mengatakan kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh bagi SPPG Soditan Lasem.
“Kami akan memperbaiki seluruh prosedur standar operasional (SOP) agar kelalaian serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan,” imbuhnya.
Nah, itu dia informasi yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan update berita terbaru hanya melalui website kami!